Pangandaran Terpaku di Level 3 Ini Penyebabnya

  • Whatsapp
pangandaran level 3

Pangandaran – Status Kabupaten Pangandaran tertahan di level 3, padahal sudah melewati berkali-kali periode PPKM dan kasus positif Corona sudah turun.

Kondisi tersebut praktis membuat Pemkab Pangandaran tidak diperbolehkan membuka objek wisata oleh pemerintah pusat. Selama itu pula masyarakat yang terkait dengan kegiatan pariwisata menjerit karena kehilangan penghasilan.

Bacaan Lainnya

Padahal Pemkab Pangandaran terus berusaha keras menekan angka kasus Corona.  Tapi anehnya, Pangandaran tetap berada di level 3 dan tetap tak boleh membuka objek wisata.

Saat dikonfirmasi mengenai hal tersebut, Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata mengatakan ada satu indikator yang saat ini masih dianggap rendah yaitu angka tracing dan testing alias pelacakan dan pemeriksaan.

Sementara melakukan testing apalagi test swab itu tak mudah. Banyak masyarakat yang menolak. Bahkan untuk seorang yang sudah berstatus kontak erat pun, banyak yang enggan menjalani test swab.

“Target saya minggu depan kita level 2, sehingga wisata bisa buka,” kata Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata, Rabu (25/8/2021).

Dia mengatakan dari total 6 indikator leveling kasus COVID-19 di Indonesia, sebanyak 5 indikator sudah bagus. Misalnya BOR RSU yang sudah dibawah 20 persen, tingkat kematian rendah, rasio kasus aktif rendah, penanganan rawat inap dan lainnya.

“Pangandaran itu yang masih rendah adalah tracing dan testing, itu yang masih menjadi masalah. Kemarin sudah kita bahas dan perbaiki, sehingga target kita minggu depan bisa turun dari level 3 ke level 2,” papar Jeje.

Pemeriksaan Anak Sekolah

Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan melakukan testing terhadap anak sekolah. Jeje menargetkan setiap hari harus ada 200-an siswa yang diperiksa melalui test swab antigen.

“Anak-anak kan mulai sekolah tatap muka, sehingga perlu diperiksa. Saya sudah arahkan agar para Kepala Sekolah membawa anak didiknya untuk ditesting. Sehari minimal 200 orang diperiksa,” kata Jeje.

Selain itu testing terhadap kontak erat pasien positif juga ditingkatkan menjadi minimal 10 orang per satu pasien positif. Untuk menyukseskannya optimalisasi peran TNI dan Polri sebagai tracer ditingkatkan.

“Target idealnya memang 800 orang per hari, tapi sementara kita targetkan 400 saja dulu,” kata Jeje.

Di samping itu percepatan vaksinasi juga terus dilakukan. Saat ini rata-rata warga Pangandaran yang divaksin mencapai 3.500 orang per hari.

“Saya pantau terus, untuk wilayah yang rendah vaksinasinya. Camat langsung ditegur, pokoknya imunitas komunal harus segera tercapai. Maksimal tahun ini selesai semua divaksin,” kata Jeje.*

Pos terkait