Ritual Larungan Agung di Pantai Barat Pangandaran Dibubarkan Petugas

  • Whatsapp
ritual larungan pangandaran

Pangandaran – Puluhan anggota dan pengikut Yayasan Manunggal Rasa Kemanusiaan dari Kabupaten Cilacap Jawa Tengah, Minggu (5/9/2021) berdatangan ke pantai barat Pangandaran. Jauh dari Cilacap mereka hendak melakukan ritual larungan agung di pantai barat Pangandaran.

Mereka mendirikan tenda di tepi pantai. Selain itu mereka juga membawa sesaji atau sesajen dalam ukuran besar.

Bacaan Lainnya

Ada nasi tumpeng berukuran lebih dari 1 meter, ada sayuran disusun tinggi, ada pula aneka buah-buahan.

Saking besarnya, tiga jenis sesajen itu haru diboyong oleh beberapa orang. Selain itu mereka juga membawa seekor kambing hitam yang rencananya akan dilarung ke laut.

Maka tak berlebihan jika mereka menyebut acara itu adalah larungan agung. Tema yang diusung dan tertera dalam banner adalah “menjaga persatuan dan kesatuan bangsa”.

Namun demikian rencana untuk melaksanakan acara ritual budaya itu buyar seketika. Acara baru dilaksanakan separuh jalan mendadak ambyar.

Pasalnya petugas gabungan Satpol PP, TNI dan Polri Kabupaten Pangandaran membubarkan acara ritual larungan agung di pantai barat tersebut.

ritual larungan dibubarkan petugas
SUASANA acara larungan agung yang dilaksanakan sekelompok masyarakat dari Cilacap di pantai barat Pangandaran.

 

Melanggar Aturan PPKM

Sekretaris Satpol PP Pangandaran Bangi menjelaskan pihaknya terpaksa melakukan pembubaran acara itu karena berkaitan dengan PPKM Covid-19 dan objek wisata pantai Pangandaran yang tengah melakukan uji coba pembukaan wisata.

“Acara ini bisa menarik perhatian wisatawan. Kami mengkhawatirkan menimbulkan potensi kerumunan yang lebih parah. Makanya kami melakukan tindakan pembubaran,” kata Bangi.

Selain itu Bangi menegaskan bahwa kegiatan budaya itu tidak mengantongi izin resmi pelaksanaan kegiatan dari Pemkab Pangandaran.

“Ya tadi sempat beradu argumen, namun setelah diimbau melalui pengeras suara mereka akhirnya mau membubarkan diri,” kata Bangi.

Bangi juga mengakui ada kekecewaan dari pihak pelaksana kegiatan, tapi pihaknya terpaksa bertindak demi menjaga kondusifitas dan penegakan aturan.

“Kekecewaan pasti ada, tapi sudah kami jelaskan situasinya dan mereka mau mengerti,” kata Bangi.

ritual larungan dibubarkan petugas
PETUGAS melakukan tindakan pembubaran acara larungan.

 

Panitia Acara Menerima Tindakan Petugas

Heru Purnomo perwakilan dari penyelenggara ritual larungan itu mengaku menerima keputusan petugas yang membubarkan ritual yang dilakukan kelompoknya.

“Saya terima dan menghormati kebijakan dari pemerintah setempat,” kata Heru.

Heru menjelaskan tujuan pihaknya menggelar ritual larungan itu tujuannya untuk menjaga tradisi leluhur.

“Sebetulnya tidak merugikan juga, kita hanya mengenang leluhur. Buat kebaikan Pangandaran juga sebenarnya,” kata Heru.

Dia mengatakan pihaknya sudah sering melakukan kegiatan larungan, namun baru kali ini menemui kendala atau dibubarkan petugas.

“Mungkin tahun depan kami mau kerjasama dengan dinas pariwisata setempat,” kata Heru.

Setelah dibubarkan Heru dan kawan-kawan kemudian mengemasi barang mereka termasuk ragam sesaji berukuran besar itu.

“Belum tahu ini mau pindah kemana,” kata Heru.

Sementara itu sebelum dibubarkan petugas, ritual ini sempat menarik perhatian wisatawan dan warga sekitar.

Pasalnya acara larungan semacam itu jarang terjadi di Pangandaran.

Kehadiran seorang perempuan bermahkota dan memakai kostum Nyai Ratu Kidul juga menjadi daya tarik.

Warga juga penasaran dengan prosesi pelarungan seekor kambing hidup.

Tapi karena dibubarkan petugas, sesaji dibawa pulang kembali dan kambing hanya sepintas di bawa ke tepi pantai.

Prosesi pelarungan ini juga diwarnai oleh tahapan layaknya upacara. Ada ritual menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, pembacaan teks Pancasila, pembacaan pembukaan UUD 1945 dan pembacaan Sumpah Palapa.

Tapi belum sempat pelarungan rampung, petugas terlanjur melakukan pembubaran.

Awalnya petugas melakukan pembubaran secara persuasif, tapi diabaikan oleh peserta ritual.

Meski tak menggunakan tenda yang sudah didirikan, mereka terus melanjutkan rangkaian acara. Tahapan upcara ritual tetap dilanjutkan.

Akhirnya petugas memberikan imbauan melalui pengeras suara.

Suara imbauan yang nyaring rupanya mengganggu khidmat acara hingga akhirnya mereka membubarkan diri.*

Pos terkait