Dukung Percepatan Vaksinasi Disdikpora Pangandaran Kerahkan Guru

  • Whatsapp
KEPALA Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pangandaran Agus Nurdin.*

Pangandaran – Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Pangandaran tak ingin ketinggalan menyokong percepatan vaksinasi.

Kepala Disdikpora Pangandaran Agus Nurdin mengeluarkan surat edaran yang mewajibkan semua guru untuk mengajak orang-orang di sekitar lingkungan tempat tinggalnya agar mau menjalani vaksinasi COVID-19.

Bacaan Lainnya

“Kami buat surat edaran, semua guru wajib mengajak, mengedukasi 5 rumah tetangga di lingkungannya untuk mau divaksinasi. Itu kami wajibkan, kami siapkan form isiannya untuk laporan bahwa guru-guru sudah melaksanakan kewajiban mengajak tetangga untuk vaksinasi,” kata Agus.

Dijelaskannya jumlah guru di Kabupaten Pangandaran ada sekitar 4.000 orang, sehingga jika satu orang mampu mengajak 5 orang tetangganya akan didapat 20 ribu warga yang mau divaksinasi.

“Pihak sekolah juga menyurati orangtua siswa yang belum divaksinasi. Mereka diimbau vaksinasi jika ingin pembelajaran tatap muka terus berjalan,” kata Agus Nurdin.

Lebih lanjut Agus Nurdin mengatakan pelaksanan pembelajaran tatap muka terbatas di Kabupaten Pangandaran dikawal oleh kegiatan testing COVID-19 secara rutin.

“Testing terus kami lakukan setiap hari, secara acak kepada siswa dan guru dengan tes swab antigen,” kata Agus, Sabtu (25/9/2021).

Pemeriksaan itu menurut Agus merupakan langkah antisipasi untuk menghindari terjadinya klaster penularan di sekolah yang belakangan banyak terjadi di sejumlah daerah.

“Setiap hari rata-rata dua ratus siswa dan guru diperiksa. Sejak PTM dibuka beberapa bulan lalu, total sudah ada 9 ribu siswa yang dites swab. Alhamdulillah tidak ditemukan adanya kasus positif di sekolah, apalagi sampai terjadi klaster” kata Agus.

Dia mengaku mengapresiasi dukungan Pemkab Pangandaran untuk melakukan pemeriksaan tes swab terhadap siswa dan guru.

“Tentu dukungan Pemkab sangat besar. Biaya pemeriksaan tes swab antigen kan lumayan. Misalnya satu kali tes butuh Rp 100 ribu, kalau sekarang kami sudah menghabiskan 9.000 alat tes berarti sudah habis Rp 900 juta,” kata Agus.

Agus menjelaskan di awal-awal diberlakukan testing acak ini, banyak siswa yang menolak. Namun seiring berjalan waktu siswa jadi antusias untuk menjalani pemeriksaan. Anak-anak merasa menjalani tes adalah tantangan, semacam uji nyali.

“Ada kebanggaan yang siswa rasakan kalau sudah tes swab. Semacam uji nyali lah, ya maklum namanya anak-anak, tapi positifnya kita tak susah lagi untuk mencari anak yang mau diperiksa,” kata Agus.

Pos terkait